Berikutjawaban dari pertanyaan "tuhan menciptakan perbedaan pada setiap manusia dan perbedaan itu merupakan?" tuhan menciptakan perbedaan pada setiap manusia dan perbedaan itu merupakan anugerah tuhan yang harus kita syukuri. Baca Juga : Pengikatan CO2 pada proses fotosintesis terjadi di? Leave a Comment Cancel reply. tuhanmenciptakan perbedaan setiap manusia, seperti suku, agama, ras, bahasa, warna kulit dan sebagainya. perbedaan tersebut merupakan . Question from @kaylaaa986 - PPKn Dilansirdari Encyclopedia Britannica, tuhan menciptakan perbedaan pada setiap manusia dan perbedaan itu merupakan anugerah tuhan yang harus kita syukuri. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu Konferensi Asia Afrika telah menghasilkan beberapa kesepakatan. Artinya Allah SWT yang telah menciptakan perbedaan di tengah-tengah kehidupan manusia (Qs. Al-Hujurat ayat 13). Jika Allah menghendaki, maka Ia akan menciptakan manusia satu suku bangsa saja, satu bentuk, satu rupa, satu gender, hingga satu agama saja. Namun tidak, Allah SWT menciptakannya dengan sangat beragam, dengan keyakinan yang beragam pula. Tuhanmenciptakan perbedaan pada setiap manusia dan perbedaan itu merupakan? suatu masalah yang wajib kita hindari; anugerah Tuhan yang harus kita syukuri; suatu masalah yang perlu menjadi perhatian; suatu kondisi yang perlu diwaspadai; Semua jawaban benar; Jawaban: B. anugerah Tuhan yang harus kita syukuri. Takhanya perbedaan jenis makhluk hidup, antara satu manusia dengan manusia lainnya pun kita memiliki perbedaan. Adanya fenomena perbedaan ini tentu memiliki alasan tersendiri. Alasan Tuhan menciptakan makhluk hidup berbeda-beda ini disebutkan dalam Alquran, salah satunya tertuang di surat Al Hujurat ayat 13 berikut ini: Banyakorang berlebihan menggunakan istilah an-nizhâm al-ijtimâ'î untuk menyebut seluruh peraturan kehidupan bermasyarakat. Penggunaan istilah ini salah. Istilah yang lebih tepat untuk menyebut peraturan kehidupan bermasyarakat adalah anzhimah Akanmenjadi suatu pelecehan bagi kinerja Allah swt jika kita mempertanyakan mengapa Allah menciptakan perbedaan derajat kemampuan di antara makhluk dan mengapa setiap orang tidak diberikan saja kemampuan yang memungkinkan baginya mencapai tingkat pemahaman dan kecintaan Tuhan yang sempurna. Setiap orang yang berpikir tentunya mampu memahami bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menggugat W3F4OnY. Di antara sifat-sifat mulia Allah adalah Maha Kuasa, yang artinya Allah Swt. berkuasa untuk memaksakan kehendak-Nya kepada makhluk-makluknya yang ada di seluruh alam ini. Salah satu contoh nyata dari sifat Allah Maha Kuasa adalah menciptakan manusia dalam keberagaman. Keberagaman tersebut melahirkan konsep penerimaan dan penghormatan atas perbedaan yang ada. Dalam dialektika perbedaan dengan sifat Allah Yang Maha Kuasa memunculkan sebuah pertanyaan, kenapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda? Kenapa Allah tidak menciptakannya sama saja? Dalam konteks tersebut sebenarnya Allah mampu-mampu saja mengkehendaki manusia dalam kesamaan tanpa harus adanya perbedaan. Tetapi Allah tidak mengkehendaki seperti itu terjadi. Melainkan pada konteks ini Allah ingin menunjukan hal lain, yang tidak mampu makhluknya lakukan, yaitu keagungan dan kebesaran-Nya. Sejak Dulu Sejarah Penciptaan Manusia Memang dari Perbedaan Jika melihat sejarah penciptaan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang Allah ciptakan dalam bentuk wujud yang nyata, kita dapat melihat perbedaan itu sudah ada. Perbedaan itu muncul dari apa dan bagaimana penciptaan Nabi Adam. Tentu kita sudah tahu bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah yang berbeda-beda, kemudian Allah menyatukannya dalam bentuk kesatuan yang saling melengkapi sehingga terbentuklah satu badan yang bisa ditempati oleh ruh. Segala rangkaian penciptaan dari tanah yang berbeda-beda memberikan isyarat bahwa manusia memang dari sejak dulu Allah Swt. ciptakan dengan perbedaan. Adapun penyatuan menjadi satu kesatuan, isyarat bahwa perbedaan dapat disatukan sehingga dapat dihidupi oleh manusia dengan ketentraman, kenyamanan, dan kedamaian. Keterangan mengenai penciptaan Nabi Adam terdapat dalam kitab Daqaiqul Akhbar karangan Imam Abdurrahim bin Ahmad Al-Qadhi bahwa Ibnu Abbas berkata “Allah Swt. menciptakan Nabi Adam dari tanah yang berasal dari beberapa daerah di dunia. Kepalanya dari tanah ka’bah, dadanya diambil dari beberapa tempat di bumi, punggung dan perutnya diambil dari tanah india, tangannya dari bumi bagian timur dan kakinya dari bumi bagian barat.” Wahab bin Munabbih berkata “Allah Swt. menciptakan Adam dari tanah tujuh bumi. Kepalanya dari tanah bumi yang pertama, lehernya dari bumi kedua, dadanya dari bumi ketiga, kedua tangan punggung dan perutnya dari bumi kelima, paha dan patatnya dari bumi keenam, dan kedua betisnya dari bumi ketujuh.” Sementara dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berkata “Allah Swt. menciptakan Adam yang kepalanya diciptakan dari tanah Baitul Maqdis, wajahnya dari tanah surga, kedua tangannya dari tanah Thursina, dahinya dari tanah Iraq, giginya dari telaga Al-Kautsar, tangan kanan dan jari-jarinya dari tanah ka’bah, tangan kirinya dari tanah Persia, kedua kakinya dari tanah India, tulang belakangnya dari tanah gunung, auratnya dari tanah Babilon, punggungnya dari tanah Iraq, perutya dari tanah Kurasan, hatinya dari tanah firdaus, lisannya dari tanah Thaif, dan kedua matanya dari tanah telaga Al-Haudh.” Tujuan Allah Menciptakan Perbedaan Berdasarkan ayat dalam Al-Qur’an setidaknya ada dua tujuan besar mengapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Pertama, untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan kebesaran-Nya. Penunjukkan ini dengan menciptakan manusia berbeda-beda. Mulai dari struktur tubuhnya seperti DNA, sidik jari, bentuk tubuh, warna kulit hingga perbedaan bahasa, suku, budaya, dan lainnya. Dalam hal ini, Allah hendak menunjukkan bahwa penciptaannya bukanlah sebuah kebetulan. Karena jika hal tersebut adalah sebuah kebetulan, maka sangat kecil sekali terjadinya perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya. Setiap individu yang memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing, ini tidak mungkin terjadi kecuali karena kekuasaan dan kebesaran-Nya. Jika saja seseorang mau merenungkan hal ini secara mendalam, maka orang tersebut akan menemukan kekuasaan dan kebesaran Allah di dalamnya. Dan orang itu akan tunduk dan patuh seraya berkata “bahwa ini tidaklah terjadi secara kebetulan dan sia-sia”. Hal ini sebagaimana yang Allah Swt. firmankan dalam surah Ali Imran ayat 191, yaitu “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” Kedua, Allah menciptakan manusia berbeda-beda tujuannya untuk mengenal satu sama lain. Dengan perbedaan dan keunikan yang masing-masing miliki, seharusnya bisa menjadikan manusia untuk saling mengenali dan menghargai perbedaan tersebut. Oleh karena itu, perbedaan dalam apapun tidak boleh menjadikan manusia saling bermusuhan. Sebaliknya, perbedaan tersebut harusnya menjadikan manusia saling erat-mengeratkan, saling kenal dan juga saling menghargai. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 13, yang artinya “Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Manfaat dari Adanya Perbedaan yang Tercipta Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu, kecuali di dalamnya terdapat kebermanfaatan dan kemaslahatan bagi makhluknya. Salah satunya perbedaan yang ada saat ini. Setidaknya ada dua manfaat dari adanya perbedaan yang tercipta, berikut rangkumannya. Pertama, menciptakan keindahan Manfaat pertama dari adanya perbedaan adalah terciptanya keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah perbedaan yang dimiliki manusia. Dengan adanya perbedaan tersebut manusia memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing. Misalnya dari segi bahasa, budaya, dan lainnya. Analogi yang sering kita jumpai tentang keindahan dalam perbedaan adalah warna-warni pelangi. Tentu jika ditanya lebih indah mana antara pelangi yang memiliki berbagai macam warna dengan pelangi yang hanya memiliki satu warna. Dengan ini kita yakin bahwa orang-orang akan memilih pelangi dengan berbagai macam warna karena terlihat indah. Oleh sebab itu, perbedaan dapat menciptakan keindahan. Kedua, menciptakan harmonisasi Manfaat kedua dari adanya perbedaan adalah terciptanya harmonisasi. Harmonisasi di sini adalah upaya penyesuaian atas sifat-sifat manusia dan kondisi sosialnya. Misalnya, Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin tujuannya untuk melahirkan rasa peduli, atau Allah menciptakan watak lembut dan keras untuk menjaga keseimbangan dalam bertindak. Hal semacam ini sering dianalogikan seperti tangga nada. Di mana dalam iramanya perlu nada tinggi dan nada rendah agar aransemennya bisa sesuai dan enak kita dengar. Oleh sebab itu, perbedaan dapat menciptakan harmonisasi. Pada dasarnya perbedaan yang Allah kehendaki adalah salah satu cara Allah menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya, namun di samping itu, Allah ingin mengkehendaki manusia untuk saling mengenal dan menghormati sesamanya. Oleh karena itu, perbedaan yang ada patut kita syukuri. Sebab, jika perbedaan itu tidak ada maka kita tidak dapat mengetahui dan merasakan rasanya mengenal dan menghormati. Wallahu a’lam bishawab Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sebuah keniscayaan bahwa beberapa dari kita pernah mengalami fase krisis intoleransi terhadap perbedaan. Biasanya, fase tersebut dialami ketika masa puber, di mana pada masa tersebut, psikologi kita sedang diuji krisis identitas “siapa saya.” Ditambah dengan pengaruh eksternal, yang kebetulan, materi-materi yang terserap pada fase tersebut adalah materi yang berbau intoleransi. “Apa yang aku yakini adalah yang paling benar, dan yang berbeda denganku adalah salah,” kata egoisnya kala dengan yang berbeda kepercayaan agama, hingga yang berbeda secara sekte atau mazhab adalah beberapa bentuk krisis intoleransi. Terlepas dari kebenaran teologis, atau agama apa yang benar, sikap intoleransi adalah bentuk multikulturalisme yang diciderai. Padahal jika dilihat lebih dalam, setiap agama mengajarkan nilai-nilai toleransi sebagai bentuk dalam agama Kristen, disebutkan dalam Kitab Perjanjian Baru Galatia 328 bahwa semua manusia berasal dari suku, bangsa, serta kelas sosial dipersatukan dalam Kristus. Artinya, semua orang mendapatkan kasih Kristus tanpa memandang siapa dan dari mana asal-usul mereka. Adapun dalam kitab suci agama Hindu, nilai aplikasi-multikulturalisasi ini dapat dijumpai dalam Kitab Yajur Weda Disebutkan bahwa “seseorang yang mengangap seluruh umat manusia memiliki atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya, orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan.” Sesama manusia pada sejatinya adalah saudara, seorang makhluk yang diberikan jiwa dari Yang Kuasa. Sementara itu, di dalam Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam, dalam salah satu ayatnya Al-Hujurat 49 13 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan gender laki-laki dan perempuan, kemudian Ia jadikan mereka menjadi suatu kumpulan manusia yang berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar manusia dapat saling mengenal. Ibn Asyur menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan tentang pentingnya untuk bermu’amalah dan menjaga konsekunsinya adalah sesama manusia dilarang untuk merendahkan orang lain. Karena boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari pada yang merendahkan, sebagaimana yang disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Menurut Ibn Katsir, perbuatan merendahkan manusia ini merupakan tindakan yang haram ajaran dari beberapa agama yang disebutkan di atas, meskipun dengan kepercayaan teologis Tuhan yang berbeda, namun kesemuanya mengajarkan nilai kesetaraan manusia atas suratan Tuhan yang menghendaki perbedaan-perbedaan bagi makhluk-Nya. Tidak cukup hanya dari nilai dan ajaran agama, namun perlu aktualisasi kesadaran akan perbedaan yang mewujudkan kesadaran pluralisme-multikulturalisme, perlu adanya bangunan komunikasi lintas budaya maupun antar budaya yang beroperasi dalam masyarakat multikultural. Setidaknya ada tiga unsur penting selama membangun proses komunikasi, yakni pertemuan berbagai kultur dalam waktu dan tempat tertentu, pengakuan terhadap pluralisme-multikulturalisme, dan perubahan perilaku individu. Ketika berbicara multikulturalisme yang berkaitan dengan persoalan kodrat manusia, maka yang hadir adalah sebuah keanekaragaman kultural, kesetaraan dalam perbedaan, dialog antar budaya, kebebasan berbicara tanpa pandang status sosial, serta dinamika kebudayaan dalam konteks globalisasi. Manusia yang multikultural akan bersinggungan dengan sebuah kesetaraan atau antipati, intoleransi pada “keanekaragaman dan perbedaan kulural” akan berbuntut panjang pada sikap diskriminatif. Sikap tersebut akan semakin mebuat gap jika tanpa ada komunikasi dan solusi. Pada akhirnya pluralisme-multikulturalisme ini tidak dapat lepas dari isu mayoritas dan minoritas, dominan atau tidak dominan dalam sebuah kelompok. Nilai-nilai ajaran agama yang berupa toleransi, menghargai, simpati-empati, dan yang utama adalah pengakuan terhadap perbedaa-perbedaan itulah yang menjadi benteng kerukunan umat manusia sebagai aktualisasi kesadaran akan perbedaan yang digariskan Sang Pencipta. Lihat Sosbud Selengkapnya Tuhan menciptakan keragaman makhluk hidup. Foto dok. Tuhan Menciptakan Makhluk Hidup Berbeda-Beda dan Dalil yang MenjelaskannyaTuhan menciptakan keragaman makhluk hidup di sekitar kita. Foto dok. أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌArtinya “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. Al Hujurat13